Tampilkan postingan dengan label Galery Kegiatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galery Kegiatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Agustus 2013

E-Book MENULIS PROPOSAL PENELITIAN MUDAH: Jurus Sukses menulis Proposal Penelitian mandiri tanpa Pembimbing


"Jika saat ini anda juga mengalami hal yang sama seperti kebanyakan mahasiswa lainnya, yaitu kesulitan dalam menulis proposal dan laporan penelitian, maka layaklah untuk memiliki E-Book ini".
  

E-Book setebal hampir 100 halaman ini berisi panduan praktis untuk umum dan mahasiswa dalam  penulisan ilmiah seperti Kertas Kerja, Karya Tulis, Skripsi, Thesis atau Disertasi.

Penulis mencoba menerjemahkan konsep-konsep yang ilmiah dan njlimet itu menjadi sebuah istilah dan cara yang praktis serta mudah diterapkan dalam Menulis Proposal dan Laporan Penelitian. Sehingga tanpa harus ribet, proposal dan atau laporan anda selesai tepat waktu, bahkan lebih awal!

Banyak yang mengeluhkan sulitnya menulis proposal dan laporan penelitian. Keluhan mereka yang mahasiswa reguler, lebih beragam dibanding mahasiswa yang sudah bekerja. Dari bagaimana  menyiapkan topik dan ide penelitian, tinjauan pustaka dan pencarian bahan dan buku sumber, jurnal ilmiah, metodologi penelitian dan analisis data statistik, konsultasi dengan pembimbing, mendesaknya batas waktu seminar dan pengumpulan laporan penelitian, tindak lanjut hasil koreksi dosen pembimbing maupun penguji serta kesiapan materi seminar. Belum lagi persoalan pemahaman tata tulis dan kemampuan menulisnya. Sedangkan mahasiswa karyawan yang non-reguler, keluhannya hampir seragam. Mereka mengeluhkan semua hal yang dikeluhkan mahasiswa reguler itu!

Pesan sekarang juga. Manfaatkan kesempatan PROMO. E-Book ini hanya dijual Rp 20.000,- (Dua puluh ribu rupiah) saja, dengan cara transfer ke Rekening BNI No. 025-234-7332 a.n. Bpk. Cokro Aminoto, SIP, M.Kes. Atau  transfer pulsa Rp 25.000,- ke 081-327-257-944 (hanya ke nomor ini)

Untuk pemesanan hubungi:
E-Mail: cokroaminoto2007@gmail.com atau 
HP081-12-606-529

Selasa, 25 Juni 2013

Pembangunan Daerah, Sektor dan Nasional



Pembangunan  nasional  mencakup  pembangunan  semua  daerah
dan  semua  sektor,  yang  memiliki  hubungan  timbal  balik  dan
saling ketergantungan diantara ketiganya. pembangunan  daerah,  pembangunan  sektor  maupun
pembangunan  nasional  dilaksanakan  berdasarkan   asas
pemerataan  dan  keadilan  untuk  mencapai  peningkatan
kesejahteraan  yang  tinggi  serta  untuk  tetap  membina dan
menjaga  stabilitas  nasional,  baik  stabilitas  ekonomi,  sosial,
budaya, politik, keamanan serta ketahanan nasional  pada semua
segi kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Tujuan  pembangunan  setiap  daerah,  baik  yang  dilaksanakan
dalam  rangka  desentralisasi,  dekonsentrasi,  tugas  perbantuan
maupun  atas  kemauan  sendiri,  adalah  untuk  meningkatkan
kesejahteraan dan mewujudkan kemudahan sesuai dengan tujuan
pembangunan nasional dan pendirian Negara Kesatuan  Republik
Indonesia.
Ketentuan  dasar  atau  prinsip  pembangunan  daerah  adalah
sebagian  dari  rambu-rambu  yang  telah  ditentukan  bagi
pelaksanaan pembangunan daerah.
Sasaran  pembangunan  daerah  maupun  seluruh  urusan
pemerintahan pada bidang-bidang yang telah ditetapkan menjadi
wewenang pemerintahan daerah.
Dana  pembangunan  daerah  diperlukan  untuk  kelancaran
pelaksanaan  pembangunan  yang  dihimpun  dari  masyarakat
maupun dari pemerintah pusat.
Strategi  pembangunan  daerah  adalah  ketentuan  mengenai  garis
besar rencana pembangunan daerah.
Rencana  pembangunan  daerah  adalah  ketentuan  daerah  yang
memuat  ketetapan  mengenai  pembangunan  daerah  yang  akan
dilaksanakan.
Perencanaan  pembangunan  daerah  adalah  kesatuan  dari semua
usaha  untuk  menyusun  dan  menetapkan  rencana  pembangunan
daerah.
Tahapan  penyelenggaraan  pembangunan  meliputi:  persiapan,
pelaksanaan  penyelenggaraan,  menyusun  laporan  pelaksasnaan,
dan  menyelesaikan  pertanggungjawaban  pelaksanaan  sesuai
ketentuan.
Pengendalian  pembangunan  daerah  adalah  pemantauan  dan
pengenalan kegiatan-kegiatan pembangunan.
Keterbatasan  daerah  adalah  keadaan  sumber  daya  alam yang
secara  alami  memiliki  potensi  yang  lebih  rendah  dan kurang
mampu mendukung pembangunan daerah.

Pembangunan  sektor  adalah  usaha  meningkatkan  pengelolaan
dan  manfaat  sumber  daya  sektoral  untuk  mendukung
pembangunan daerah dan pembangunan nasional.
Ruang gerak pembangunan sektor berada pada lembaga-lembaga
pusat pemerintahan dan diseluruh daerah; meliputi kelembagaan,
potensi dan sarana produksi, kuantitas dan kualitasserta manfaat
benda dan jasa yang dihasilkan, peran serta masyarakat.
Pembangunan sektor sesuai dengan:
1.  Tugas  pokok  dan  fungsi  kementerian/lembaga  masingmasing bidang,
2.  Kepentingan  pembangunan  nasional  dan  kepentingan
pembangunan daerah.
Tantangan  pembangunan  sektor  a.1.  rendahnya  produktifitas
sektor  sehingga  tidak  mencukupi  keperluan  masyarakat  luas,
keterbatasan  dana  dan  sarana  dan  keterbatasan  sumber  daya
sektoral.
Dana  pembangunan  sektor  berasal  dari  pemerintah  pusat,
pendapatan  daerah,  masyarakat  daerah,  masyarakat  daerah  lain,
investasi  dari  dalam  negeri,  investasi  asing,  dan  bantuan  dari
negara lain.
Rencana pembangunan sektor terdiri atas; rencana induk (masterplan),  rencana  pembangunan  jangka  panjang  (RPJP),  rencana
pembangunan  jangka  menengah  (RPJM),  dan  rencana
pembangunan tahunan (RPT).
Pengendalian  dan  evaluasi  pembangunan  dilakukan  oleh  kepala
satuan  kerja  pemerintah  pusat,  kepala  SKPD  provinsi,  kepala
SKPD  kabupaten/kota,  sesuai  dengan  bidang  tugas  dan
wewenangnya serta ketentuan sumber dana yang digunakan.
Sasaran  evaluasi  meliputi  kebijakan,  strategi,  rencana  nasional
dan  rencana  daerah,  pelaksanaan  pembangunan,  pemanfaatan
sumber daya sektor, pemanfaatan hasil pembangunan sektor.
Keterbatasan  sumber  daya  sektor  terdiri  atas  keterbatasan
kelembagaan  dan  keterbatasan  sumber  daya  sektor.  Hambatan
pembangunan  sektor  terdiri  atas  hambatan  alami  dan  dampak
perbuatan  manusia.  Keterbatasan  dan  hambatan  dapat  dikurangi
dengan perubahan strategi pembangunan sesuai dengankeadaan
sektoral.

Pembangunan  Nasional  merupakan  penjabaran  dari  tujuan
kemerdekakan  bangsa  Indonesia  yang  tercantum  dalam
pembukaan UUD 1945.
Pembangunan  nasional  memiliki  tiga  landasan  yaitu  landasan
idiil,  konstitusional  dan  operasional.  Landasan  idiil  adalah
Pancasila,  landasan  konstitusional  adalah  UUD  1945  dan
landasan operasional adalah seluruh peraturan perundangan yang
terkait  langsung  dengan  pembangunan  nasional.  Modal dasar
pembangunan  nasional  adalah  seluruh  kekayaan,  keadaan  dan
kemampuan bangsa Indonesia, kemerdekaan dan hubungan baik
dengan semua negara di dunia.
Sasaran  pembangunan  nasional  mencakup  pembangunan  semua
segi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tantangan pembangunan nasional meliputi bidang politik, sosial
budaya,  lingkungan,  ekonomi  dalam  negeri  dan  kondisi
perdagangan luar negeri.
Dana  pembangunan  nasional  berasal  dari  produksi  barang  dan
jasa,  dana  pinjaman  dan  hibah  dari  negara  lain  dan  organisasi
internasional.
RPJP  Nasional  adalah  dokumen  perencanaan  pembangunan
nasional periode 20 tahun dan menjadi acuan dalam perencanaan
RPJM.  Menteri  Perencanaan  Pembangunan/Kepala  Bappenas
melaksanakan  evaluasi  secara  umum  terhadap  penyelenggaraan
semua  kegiatan  pembangunan  baik  yang  dibiayai  dana  APBN
maupun dana lain.

Hukum Administrasi Negara


Hukum itu ialah peraturan-peraturan yang bersifat memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat yang dibuat oleh Badan-badan resmi yang berwajib, pelanggaran mana terhadap peraturan-peraturan tadi berakibatkan diambilnya tindakan, yaitu dengan hukum tertentu. 

Dengan memperhatikan pengertian hukum sebagaimana telah diuraikan di atas, menurut Bapak Yos Johan Utama, maka dapat dikatakan bahwa unsur-unsur hukum adalah:
1. Peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat;
2. Peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib;
3. Peraturan itu bersifat memaksa;
4. Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tegas.

Sedangkan ciri-ciri hukum adalah:
1. Adanya perintahdan/atau larangan;
2. Perintah dan/atau larangan itu harus dipatuhi dan ditaati setiap orang;
3. Dibuat oleh badan-badan resmi.

Sedangkan ide adanya negara hukum adalah dalam rangka memberikan batasan kewenangan yang dilaksanakan oleh penguasa pada saat berkuasa. Adapun  pengertian dari negara hukum adalah suatu negara di mana segala tindakan atau perbuatan penyelenggara negara atau pemerintah harus didasarkan kepada hukum. Sebagai negara hukum, maka negara di dalam menjalankan
kekuasaannya harus memperhatikan unsur-unsur dari negara
hukum, yaitu:
1. Adanya jaminan terhadap hak asasi manusia (grondrechten);
2. Adanya pembagian kekuasaan (scheiding van machten);
3. Pemerintahan haruslah berdasarkan peraturan-peraturan hukum (wet matigheid van het bestuur);
4. Adanya peradilan administrasi (administrasi rechspraak).

Negara Indonesia adalah Negara hukum, hal ini tercermin dalam Pasal-Pasal UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, antara lain Pasal 1 ayat (3) yang berbunyi “Negara Indonesia adalah Negara
hukum”. Sebagai negara yang berdasarkan atas hukum tentunya segala perbuatan atau tindakan pemerintah atau Negara harus didasarkan pada ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang sudah ada sebelum perbuatan atau tindakan tersebut dilaksanakan.

Hukum dan peraturan perundang-undangan yang ada haruslah didasarkan pada hukum dan peraturan perundang-undangan yang baik dan adil. Hukum yang baik adalah hukum yang demokratis yang didasarkan atas kehendak rakyat sesuai dengan kesadaran rakyat, sedangkan hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi maksud dan tujuan setiap hukum, yakni keadilan.
Untuk dapat menciptakan hukum yang baik dan adil tentunya tidak terlepas dari proses dan prosedur pembuatannya, oleh karena itu di dalam pembuatan harus didasarkan pada alasan dan tujuan yang jelas , atau harus didasarkan kepada landasan filosofis, yuridis dan sosiologis, selain itu harus taat terhadap tata urutan peraturan perundang-undangan yang ada serta peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi

Beberapa pengertian Hukum Tata Negara yang telah diuraikan di atas, apabila disimpulkan maka pengertian Hukum Tata Negara adalah hukum yang mengatur tentang berdirinya suatu lembaga
negara, tugas dan fungsi suatu lembaga negara serta hubungan antara lembaga negara yang satu dengan lembaga negara yang lainnya. Sedangkan pengertian Hukum Administrasi Negara adalah
keseluruhan aturan-aturan hukum yang harus diperhatikan oleh alat perlengkapan negara dan pemerintahan jika menjalankan kekuasaannya.

Dari dua pengertian tersebut di atas, memang terdapat perbedaan, namun demikian antara Hukum Tata Negara dengan Hukum Administrasi Negara memiliki hubungan yang erat, karena samasama obyeknya adalah Negara, karena Hukum Administrasi Negara mempunyai tugas untuk mengawasi jalannya tugas dan fungsi yangdijalankan oleh lembaga-lembaga negara yang termasuk dalam ruang
lingkup Hukum Tata Negara. Sehubungan dengan hal tersebut di atas Hukum Tata Negara disebut
juga negara dalam keadaan tidak bergerak (negara dalam keadaan statis), hal ini karena HTN hanya mengatur mengenai organ-organ negara, sedangkan Hukum Administrasi Negara disebut juga negara dalam keadaan bergerak (negara dalam keadaan dinamis) karena Hukum Administrasi Negara mengatur administrasinya saja, seperti kewenangan untuk memberikan perijinan oleh suatu instansi pemerintah termasuk juga administrasi di dalam proses dan prosedur pembuatan ijin.Hukum

Kamis, 06 Juni 2013

Mejeng



Akhir selesai diskusi yang panjang itu, beberapa orang mengambil ritual syukuran dengan mejeng, narsis foto bersama. Dari kiri adalah Mbak ambar, rini, endang, umi dan arifani."Halo anak-anak di rumah..."

endang dan Umi


Kedua orang ini sulit kalau mau di jepret oleh reporter Pim3limapuluh, tapi akhirnya menyerah juga malah minta mejeng, okeeee mbak endang ndak usah serius , mbak umi  kok tampak lebih tua haaa jangan marah yaaa okee

Apel dan senam pagi

Kegiatan rutin harian Diklatpim III adalah apel dan senam pagi. Senam pagi dilaksanakan jam 05.00 dilanjutkan kegiatan apel pagi. Sepagi itu, terus siapa  yang ngebangunin? Eh perlu tahu juga ya, di sini ada ketua kelas harian. Nah, tuh dia.
Ketua kelas harian salah satu tugasnya membangunkan dan memberangkatkan apel seluruh peserta. Pagi-pagi, 15 menit sebelum kumpul Ketua harian membunyikan bel satu kali panjang.., tandanya persiapan. Sepuluh menit berikutnya, Ketua harian membunyikan bel dua kali pendek-pendek, tandanya berkumpul. 

Selasa, 04 Juni 2013

habis senam aerobik

Senam pagi dan senam aerobik merupakan kegiatan rutin harian peserta Diklat. Peserta senantiasa bersemangat. Barangkali tuntutan kebutuhan "olah raga" atau karena instrukturnya?

Senin, 03 Juni 2013

Telaah Staf Paripurna Oleh Dr.Ir.Nugroho In Saputro,MM


“Pimpinan dalam bekerjanya  perlu  dibantu  oleh  sekelompok  staf  yang  berkualitas. Staf pimpinan tersebut dapat dikelompokkan dalam staf pribadi,  staf  khusus,  dan  staf  umum.  Kesemua  staf  tersebut mempunyai tugas meringankan pelaksanaan tugas pimpinan sehingga  pimpinan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik” Demikian DR. Nugroho In Saputro mengawali  pembelajaran.

Para  manajer  harus  memiliki  keterampilan  (skill)  yang  memadai agar  mampu  melaksanakan  tugasnya  dengan  baik.  Robert  Kartz  mengatakan  bahwa  terdapat  tiga  jenis  keterampilan  yang  perlu dimiliki oleh setiap manajer. Keterampilan-keterampilan tersebut adalah:
1)  Keterampilan Teknis (Technical Skill)
2)  Keterampilan Kemanusiaan (Human Skill)
3)  Keterampilan Konseptual (Conceptual Skill).

Pentingnya Staf dalam Organisasi
Bantuan yang dapat diberikan oleh staf antara lain adalah:
a.  Pengumpulan dan analisis data;
b.  Pemberian rekomendasi/alternatif tindakan;
c.  Sosialisasi kebijaksanaan pimpinan;
d.  Persiapan rencana dan pelaksanaannya;
e.  Pemantauan dan evaluasi kegiatan operasional.

Dalam hal  ini peranan staf sebagai pembantu pimpinan sangat diharapkan dalam  memberikan  telaahannya  yang  paripurna,  artinya telaahan  yang  disampaikan  telah  disiapkan  dengan  matang, dengan  data  yang  lengkap  dan  akurat  sehingga  telaahan  staf tersebut  akan  mempermudah  pelaksanaan  tugas  pimpinan

Fungsi Telaahan Staf
 Fungsi  utama telaahan staf adalah meringankan bebanpekerjaan pimpinan terutama dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dalam organisasi. Peranan yang dapat diberikan oleh staf antara lain adalah dalam:
1. Memberikan telaahan mengenai berbagai aspek organisasi;
2. Juru bicara pimpinan;
3. Penasihat pimpinan/konsultan.

Untuk dapat melakukan peranan tersebut dengan sebaik-baiknya maka  seorang  staf  dituntut  memiliki  beberapa  persyaratan, diantaranya yang penting adalah:
a.  Memahami visi dan misi organisasi;
b.  Memiliki wawasan yang luas;
c.  Berpikir sistemik;
d.  Menguasai berbagai teknik pemecahan masalah;
e.  Memiliki human skill yang baik;
f.  Memiliki kemampuan teknis di bidangnya;
g.  Memiliki etika kerja yang baik;
h.  Memiliki integritas.

Jenis telahan staf beraneka ragam, menurut bentuknya telahaan staf  dapat  dibedakan  dalam  surat  dinas/memo,  laporan,  dan makalah  (staf  paper),  sedangkan  menurut  isinya  dapat  dibedakan  dalam  pemberian  informasi,  dokumentasi,  dan  saran/rekomendasi.

Telahan  staf  yang  baik  perlu  memiliki  beberapa  persyaratan :  singkat,  padat,  jelas  dan  lengkap  serta  mengandung berbagai alternatif pemecahan masalah, penjelasannya dan saran
pemilihan  alternatif  terbaik,  serta  memudahkan  pimpinan mengadakan pertimbangan.
Dalam penyusunan telaahan staf paripurna perlu memperhatikan beberapa prinsip, diantaranya yang penting adalah konsep yang diajukan  kepada  pimpinan  harus  sudah  lengkap  dan  matang,
telaahan  yang  diajukan  staf  harus  mempermudah  pimpinan dalam  mengambil keputusan, serta telaahan  yang diajukan staf

Berbincang dengan Humas Angkatan 50


Selepas kegiatan pembelajaran atau di sela-sela waktu senggang, seringkali digunakan untuk berbincang banyak hal; atau sekedar mengingat kembali materi diklat, atau sekedar berbincang ringan. 





Bung Jati dan Bung Cokro  

Sistem Pengelolaan Pembangunan

Mengikuti materi diklat Sistem Pengelolaan Pembangunan oleh  DR. Maruto Umar Basuki, SE, M.Si ternyata mengasyikkan juga. Selain membahas pengertian, tujuan, makna Sistem Pengelolaan Pembangunan, menarik juga bahasan tentang implikasi Sistem Pengelolaan Pembangunan.

Pengertian
"Sistem Pengelolaan Pembangunan adalah sistem pengelolaan adalah suatu tata pola perumusan , pelaksanaan , pengendalian dan pelaksanaan, evaluasi pasaca kebijakan dan program pembangunan secara jangka panjang, menengah dan operasional tahunan ( Tjokroamijoyo, 1996 )" demikian DR. Maruto ini mengawali materinya.

Implikasinya , sistem pengelolaan pembangunan mempertimbangkan :
a. Masalah dasar  pembangunan nasional
b. Masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan pembangunan itu sendiri

Tujuan Sistem Pengelolaan Pembangunan
Mewujudkan menyelenggarakan negera yg berencana, bertahap
masyarakat yang adil dan makmur

Visi Misi pembangunan Indonesia
Indonesia yg mandiri maju, adil dan Makmur

Mandiri : ketersediaan SDM berkualitas, kemandirian aparatur pemerintah dan aparatur penegak hukum, mandiri dalam pembiayaan pembangunan dan pengadaan kebutuhan pokok
Maju : Kulaitas SDM Tinggi

Rumusan Subsistem Dari SPP
1. Strategi penataan kembali indonesia
2. Strategi pembangunan Indonesia

Siklus program / Kegiatan Pembangunan



Minggu, 02 Juni 2013

Visit Jateng tahun 2013

Sesuai Tema Diklatpim III  adalah Kepemimpinan Transformatif dalam rangka Visit Jateng tahun 2013 untuk kesejahteraan Masyarakat, maka peserta Dilatpim dalam kegiatan Out Bond melakukan "Road Show" ke beberapa lokasi yang menjadi daya tarik Jawa Tengah atau tepatnya Kota Semarang, antara lain Lawang sewu, Museum Ronggowarsito, Pasar Johar dan Masjid Kauman. 

Lokasi ini menyimpan sejarah dan memiliki daya tarik wisata tersendiri. Kegiatan ini semua untuk menumbuhkan kepekaan kepemimpinan yang Transformatif. 


Gambar ditengah kesibukan di Pasar Johar



KONTINGEN DEMAK


AGUNG HIDAYANTO,S.Sos,MM dan SUKARDJO, SKM,M.Kes inilah kontingen dari Kabupaten Demak. Tampak pada gambar ketika memasuki etape 'rock climbing" pada materi KIAT dalam rangkaian Diklatpim III Angkatan 50

Kepemimpinan Dalam Ragam Budaya

Dalam penyelenggaraan pemerintahan sebuah negara di manapun di dunia, memerlukan adanya unsur pemimpin disamping unsur lain seperti wilayah dan rakyat yang dipimpin. Sejarah kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 lalu, telah melalui perjuangan panjang bangsa yang telah mengorbankan jiwa dan raga yang besar untuk itu, karena selama 3,5 abad lebih bangsa penjajah selalu ingin kembali menjajah negara kita yang kaya raya dan indah.
Wilayah yang sangat strategis dan terbentang diantara dua benua dan dua lautan luas, terdiri dari 17.058 buah pulau besar dan kecil (data Bakorsurtanal) dan dihuni oleh lebih ratusan suku bangsa atau etnis yang tersebar diantara Sabang dan Merauke. Sedangkan dalam kehidupan rakyat Indonesia sehari hari memiliki berbagai ; agama dan adat istiadat atau budaya, bahasa daerah yang sangat beragam dan berbeda satu sama lain.
Jumlah penduduk saat ini mencapai 220 juta lebih dan merupakan Negara keempat terbesar penduduknya d dunia. Penduduk dengan masyarakatnya yang sangat heterogen yang mendiami sekita 6000 buah pulau. Di lain pihak penduduk yang begitu besar dan majemuk tersebut memerlukan pemimpin yang kuat dan tangguh serta berada ditengah tengah keberagaman diantara berbagai suku, ras, agama, adat istiadat dan kebiasaan sehari hari.
Dipihak lain dalam tujuan negera untuk mensejahteraan masyarakat adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia saat ini masih dalam perjalanan cukup panjang. Masalahnya memerlukan semangat dan keinginan seluruh rakyat atas kepemimpinan yang baik di dalam keberagaman budaya tersebut. Dari zaman kezaman terjadi perubahan yang terjadi dalam perjalanan kehidupan bernegara dan berbangsa tersebut.
Perubahan lingkungan yang strategik dunia yang tidak dapat dihindarkan akibat kemajuan teknologi dan informasi tidak terbendung, baik dibidang sosial, ekonomi dan politik serta kebudayaan. Perubahan tersebut sangat mempengaruhi kepemimpinan dan organisasi publik sebuah Negara termasuk Indonesia. Sejarah telah menunjukkan bahwa sejak kemerdekaan terjadi banyak perubahan sosial politik dan perekonomian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perubahan tersebut yang kita sayangkan adalah memperlambat pencapaian tujuan masyarakat adil dan makmur seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945.
Disinilah masalah kepemimpinan memegang peranan penting dalam pencapaian tujuan Negara tersebut di atas. Karena keuatan organisasi publik terletak pada beberapa kekuatan antara lain ; proses interaksi pada kekuatan hubungan pribadi/kelompok, mutu pola pikir serta kekuatan tata nilai (budaya) yang diterima oleh masyarakat dalam organisasi tersebut.
Pola pikir dan paradigma yang demikian terletak pada pemimpin dalam ragam budaya yang sangat mempunyai peran penting. Karena keragaman budaya dalam era tertentu mewarnai tata budaya, tata ekonomi, tata hukum, tata politik, setiap Negara. Didalam era globalisasi ini persaiangan akan semakin kuat dan bersifat regional dan global yang memerlukan kepemimpinan dalam keragaman budaya mercerminkan nilai nilai dan karakteristik ;
  1. Mencerminkan diri dalam pribadi yang memiliki visi yang kuat.
  2. Beroreantasi untuk menghasilkan kinerja organisasi yang bermutu tinggi.
  3. Menyelaraskan pembagian konpensasi dengan tingkat kinerja.
  4. Menciptakan mitra kerja atau kolaborasi dengan tingkat intensitas dan mutu yang tinggi atau kemampuan mengembangkan jaringan (networking).
  5. Menekankan ketinggian etika kerja.
  6. Kecermatan dalam perencanaan.
Dalam tujuan pembelajaran ini diharapkan tercapai pemahaman dan pengertian serta pelaksaaan masalah kepemimpinan yang tepat dalam keragaman dalam organisasi dan masyarakat Indonesia (budaya).
Pengertian Budaya
Kata Budaya dalam pengertian harfiah, sering diterjemahkan istilah bahasa Inggris yaitu Culture yang berasal dari bahasa Latin Colore yang berarti mengerjakan tanah, mengelola dan memelihara ladang (Soerjanto Puspowardoyo, 1993). Pengertian ini jelas berbau agraris pada masa tersebut dan kemudian diterapkan kedalam hal-hal yang bersifat rohani (Langeveld, 1993).
Oleh Ashley Montague dan Christopher Dawson (1993) mengartikan culture sebagai way of life atau cara hidup tertentu dengan memancarkan identitas suatu bangsa tertentu. Istilah culture ini sering diterjemahkan menjadi kebudayaan atau peradaban. Dalam bahasa Arab disebut akhlak atau budi dalam bahasa Indonesia.
The American Heritage Dictionary (Kotter dan Hescett 1992) mendefinisikan budaya sebagai keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan meleluikehidupan sosial, seni, agama, kelembagaan dan segala hasil karya dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia.
Istilah culture sering juga diterjemahkan menjadi kebudayaan atau peradaban atau budi dalam bahasa Arab disebut Akhlak. Budaya membuat orang-orang dalam etnis tertentu menjadikan kekhasan sendiri, seperti orang Jawa, orang Sunda, Orang Minang, Orang Melayu, dan lain-lain.
Ahli Belanda Geert Hofstede mengatakan bahwa budaya sebagai perangkat lunak (software) pikiran pemrogram sosial yang mengatur cara berfikir, bertindak dan mempersepsikan diri kita dari orang lain (Charles Mitcchel 2001)
Komponen–Komponen Budaya:
  1. Bahasa adalah kata kata yang terucap atau tertulis sebagai alat komunikasi dalam melakukan interaksi diantara manusia. Komunikasi verbal, non verbal, gerak gerik, bahasa tubuh, expresi wajah yang semua itu menyatakan pesan tertentu.
  2. Agama atau religi dalam budaya mempunyai pengaruh yang amat besar dalam melakukan berbagai kegiatan manusia. Dalam agama Islam sering muncul istilah Insya Allah yang mempunyai arti jika dikehendaki Tuhan. Demikian menunjukkkan kekuasaan Tuhan Yang Paling Tinggi disbanding manusia.
  3. Sikap yang saling bertentangan. Nilai nilai budaya mempunyai dampak terhadap kegiatan pengelolaan pemerintahan dan pembangunan. Dua perbedaan nilai yang paling mendasar untuk dipertimbangkan adalah apakah suatu budaya menekankan pada individu seperti oleh bangsa Amerika contohnya. Atau kolektivisme seperti orang Cina dan lainnya. Nilai budaya tercermin dalam kehidupan sehari hari dalam kelompok (suku). Maka pemahaman budaya yang mendasar diantara kelompok ataupun suku akan sangat menimbulkan masalah, lebih lebih budaya/kebiasaan suatu kelompok bertentangan dengan kelompok lain. Dijumpai komponen lain seperti ; sopan santun, seni, pendidikan, humor, organisasi sosial
Dalam bahasa Indonesia istilah budaya berasal dari budi dan daya. Budi berarti akhlak, sedangkan daya berarti upaya atau usaha. Budaya merupakan upaya upaya manusia yang didasari atas budi yang luhur yang melahirkan konsep konsep bagaimana harusnya hidup (way of life) sehingga melahirkan adat istiadat, hukum, adab sopan santun, seni dan seterusnya sebagai pedoman hidup bermasyarakat.
Pengertian kebudayaan menurut DR.Muhammad Hatta adalah “Kebudayaan adalah ciptaan Hidup dari suatu bangsa. Dan menurut Prof.Zoemulder Kebudayaan adalah perkembangan terpimpin oleh manusia budayawan dari kemungkinan kemungkinan tenaga tenaga dalam alam terutama alam manusia, sehingga merupakan kesatuan yang harmonis.
Kelompok Kebudayaan
  1. Kebudayaan sebagai suatu system pengetahuan
  2. Kebudayaan sebagai system makna thd symbol symbol.
Kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan yang dimiliki manusia sebagai makluk sosial, yang isinya adalah perangkat-perangkat, model-model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan yang dihadapinya, serta untuk mendorong dan menciptakan tindakan tindakan yang diperlukan.
Perilaku terbentuk sebagai resultante atau totalitas dari kebutuhan individu, usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan pengetahuan kebudayaan (pengetahuan masa lalu) yang dimilikinya. Kemudian dijadikan acuan untuk bertindak mencapai tujuan.
Kebutuhan individu, Pengetahuan kebudayaan, Upaya untuk memenuhi kebutuhan akan mempengaruhi perilaku dalam ekosistem Sosial budaya (fisik dan non fisik).
Unsur Kebudayaan adalah ;
  1. Sistem kepercayaan,
  2. Sistem Bahasa,
  3. Sistem Sosial,
  4. Sistem Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,
  5. Sistem Perekonomian,
  6. Sistem Kekerabatan,
  7. Sistem Kesenian,
  8. Sistem Kesehatan dan sebagainya
Perbedaan antar budaya
  1. Bahasa sebagai alat komunikasi dalam pengalaman kelompok etnisnya.
  2. Sikap terhadap waktu akan berbeda, orang yang tinggal di desa dan orang yang hidup dalam lingkungan tradisionil disbanding dengan orang yang mengalami perubahan dalam memamfaatkan waktu secara cepat.
  3. Sikap terhadap pekerjaan, berbeda antar kelompok (etnis) yang hidup dalam kondisi tertentu dengan prinsip bahwa pekerjaan adlah sukses pribadi danharga diri. Dengan individu dari kelompok (etnis) yang mempunyai prinsip pekerjaan terikat dengan tuntutan sekeliling dan irama musim dimana mereka hidup.
  4. Sikap terhadap nasib/ketawakalan, dimana sikap bagi orang yang hidup dalam Norma-norma tertentu yang merupakan kehendak yang diatas (Tuhan). Mereka akan menerima nasib dan menyerahkan keadaan dirinya dengan segala kegembiraan dan keihlasan. Dalam filosofinya mereka hidup merasa tenang dan tanpa kegelisahan atau rasa iri hati atas kemajuan yang dicapai orang lain.
  5. Hubungan dengan kelompok lain, diperlukan interaksi dan hubungan dengan kelompok lain secara harmonis dan efektif sangat diperlukan. Seorang pimpinan yang bertangung jawab dalam mencapai tujuan organisasi harus mempu bergaul dan memiliki kemapuan tehnis dalam membina hubungan dengan kelompok lain atau bawahan.
  6. Sikap terhadap organisasi resmi, diperlukan asumsi bahwa individu dapat mengembangkan karir sesuai dengan kompetensi melalui organisasi. Maka budaya dapat diartikan sebagai system; gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dengan cara belajar (Kuntjaraningrat, 1986).
 Pengertian Kepemimpinan. Menurut Buku Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia (Drs.Pamudji, MPA) bahwa Istilah Kepemimpinan berasal dari kata dasar pimpin yang berarti bimbing atau tuntun , kemudian lahir kata kerja memimpin berarti membimbing atau menuntun. Kemudian berubah dalam kata benda pemimpin atau orang yang berfungsi memimpin atau menuntun.
Istilah pemimpin berasal dari kata asing “leader”. Kepemimpinan dari “leadership” Walaupun kepemimpinan tidak sama dengan manejemen, namun pengertian tidak bisa dipisahkan dengan terdapat beberapa perbedaan.
Perbedaan kepemimpinan dengan manejemen antara lain ;
  1. Kepemimpinan mengarah kepada kemampuan individu, sedangkan manejemen mengarah kepada system dan mekanisme kerja.
  2. Kepemimpinan adalah hubungan interaksi antara si pemimpin dengan pengikut. Sedangkan manejemen merupakan fungsi status atau wewenang (authority).
  3. Kepemimpinan mengantungkan diri pada sumber sumber dalam dirinya, sedangkan manejemen mengarah kepada kesempatan mengarahkan dana dan daya yang ada dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
  4. Kepemimpinan di arahkan untuk kepentingan si pemimpin, sedangkan manejemen mengarah kepada pencapaian tujuan organisasi secara langsung.
  5. Kepemimpinan bersifat hubungan personal yang berpusat pada diri si pemimpin, pengikut dan situasi, sedangkan manejemen bersifat impersonal dengan masukan logika, dana, analitis dan kuantitatif.

“Kepemimpinan sebagai titik pusat proses proses kelompok (Leadership as a focus of group processes”. “Kepemimpinan adalah suatu kepribadian yang mempunyai pengaruh (Leadership as personality and its effects”.
Kepemimpian adalah seni untuk menciptakan kesesuaian faham atau keseiaan, kesepakatan (leadership as the art of inducing compliance).
Keragaman Budaya Indonesia
Kebudayaan berkaitan erat dengan ilmu ilmu sosial seperti ; sosioligi, psikhologi , anthropologi karena membicarakan fenomena dalam masyarakat.Dalam membicarakan Sistem Adminiatrasi Publik dalam Negara RI (SAPRI), kebudayaan merupakan factor sangat penting, karena menyangkut kajian mengenai berbagai perilaku seseorang maupun kelompok yang beroreantasi tentang kahidupan bernegara , penyelenggaraan pemerintahan, politik, hukum, adapt istiadat dan norma, kebiasaan yang berjalan yang dilaksanakan dan dihayati oleh anggota masyarakat sehari hari dalam organisasi (formal dan informal.
Berbicara tentang Kebudayaan Indonesia,
Terasa sulit karena Indonesia memiliki keragaman budaya yang dihasilkan oleh berbagai suku bangsa Indonesia. Keberagaman itulah yang menjadi kebudayaan Indonesia yang tercermin dalam nilai-nilai Pancasila dan semangat Bhineka Tunggal Ika.Perlu dikaji budaya kedaerahan yang mempengaruhi kehidupan masing-masing suku di Indonesia yang juga mempempunyai keterikanan satu sama lain dalam kebhinekaan yang ditandai dengan tidak ada perilaku yang mendua.
Walau ada perbedaan budaya tersebut di beberapa daerah dalam wujud hukum yang berbeda. Ahli Hukum Belanda membagi Indonesia atas 18 lingkaran hukum adat yang juga menunjukan perbedaan pada garis keturunan, seperti garis keibuan (matrilineal), kebapakan (patrilineal) dan keduanya (parental).
Beberapa budaya daerah dalam catatan budaya di Indonesia (Buku Administrasi Publik, Inu Kencana, dkk) dan budaya hidup sehari hari antara lain :
  1. Budaya Jawa, dengan budaya politik kawula gusti sebagai etika Jawa yang dikenal tabah dan ulet dalam kehidupan mereka. Kepasrahan dengan semangat nrimo (menerima dengan pasrah) dalam menghadapi tantangan hidup dalam kromo inggil sebagai falsafah mereka, serta kebiasaan hidup lainnya yang dinilai positif dalam kepemimpinan dengan aspek budaya.
  2. Budaya Minangkabau, dengan budaya politik partisipasi dapat merupakan kajian kepemimpinan dalam budaya yang positif untuk dikembangkan dalam pemerintahan dan pembangunan. Keuletan orang Minangkabau tercermin dalam pepatah petitih dan kebiasaan hidup berdemokrasi dalam sejarah perjalanan suku Minang dengan dua sistem yaitu Sistem Bodi Caniago dan Sistem Koto Piliang. Pandangan hidup orang Minangkabau yang Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Hal ini menunjukan ketaatan akan nilai dan ajaran agama Islam terpatri dalam kebiasaan hidup dan budaya Minangkabau. Budaya lain di Minangkabau yang positif dan dapat diangkat dalam kepemimpinan antara lain ; tagak samo tinggi dan duduak samo randah, nan buto pambasuh lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah pauni rumah, nan bingunang di suruah-suruah, nan kuaek pambaok baban, nan cadiak lawan barundiang, dll. Budaya seperti ini perlu bagi seorang pemimpin di ranah Minangkabau dalam kepemimpinannya.
  3. Budaya Sunda, yang tidak biasa menonjolkan diri karena tidak perlu dan sikap yang toleran, namun tidak gentar melawan pihak yang menindasnya. Sebuah cerita sejarah di masyarakat Sumedang bahwa suatu ketika rakyat banyak yang sengsara karena penjajah Belanda dalam cultuur stelsel (kerja paksa), menyebabkan Cadas Pangeran sengaja melawan Belanda dengan mengulurkan tangan kiri untuk bersalaman dan tangan kanan memegang keris untuk dihunjamkan kepada sang penjajah .
  4. Budaya Bugis Makassar, sebagai suku bangsa pemberani dan tangguh dalam mengaharungi lautan sampai ke mancanegara. Dalam budaya lain mereka memiliki budaya siri (Vendetta), dimana apabila salah seorang keluarga mereka dipermalukan oleh seseorang, maka seluruh anggota keluarga mereka akan menganggap orang itu sebagai musuh pula. Dengan kata lain budaya menjaga nama baik keluarga paling penting dan kalau tidak menyebabkan dendam berkepanjangan dan bahkan pertumpahan darah. Orang orang suku bugis Makassar ini terkenal dalam keberanian berdiskusi dan bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah menyebabkan pola kepemimpinan budaya di daerah ini memperhatikan sifat dan kebiasaan budaya mereka dan mengangkat kebiasaan positif dalam kepemimpinannya.
  5. Budaya Batak, terkenal dengan eksistensialis dalam menantang hidup yang terkenal dengan Batak Tembak Langsung (BTL) atau seseorang yang tinggal dipedalaman Sumatera Utara, tidak perlu melalui Medan untuk menuju Jakarta atau keluar negeri sekalipun. Dalam mengemukakan pendapat orang Batak cenderung spontan tanpa tedeng aling-aling, sehingga demokrasi dalam pembangunan politik akan berkembang pesat bila mengikuti pola sikap dan perilaku putera puteri orang Batak. Diperlukan keakraban dengan masyarakat Batak dalam membangun kepemimpinan sesuai dengan adat dan kebiasaan mereka yang fair (jujur) serta spontan dan terbuka.
  6. Budaya lainnya di Indonesia dalam kepemimpinan dalam ragam budaya di era kebebasan yang perlu dikaji secara baik untuk mencapai tujuan.
Menghargai Keragaman Budaya
Dalam pola kepemimpinan tersebut, diperlukan usaha usaha untuk menemukan nilai-nilai budaya yang beranekaragam tersebut dengan memahami perbedaan dan persamaan diantara mereka dalam semangat kebhinekaan. Unsur-unsur penting dalam dimensi budaya melalui komunikasi non verbal, penggunaan bahasa, orientasi ruang dan waktu, pendekatan-pendekatan psikologis yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan dalam pola kepemiminan dalam komunikasinya.
Dimensi kebudayaan lain seperti pola pikir yang digunakan kelompok/individu biasanya berdasarkan nilai nilai kebudayaan masyarakat suatu kelompok etnis sejak dari kecil sudah terbiasa dalam berpola pikir dan berperilaku seperti hal tersebut. Perangkat nilai serta Norma dalam budaya merupakan perangkat cita-cita dan keinginan yang diharapkan dalam kelompok masyarakatnya. Nilai baik dan buruk dan yang dilarang dan suruhan mempengaruhi sikap dan perilaku mereka.
Unsur paling penting dalam kebudayaan kita adalah sistem nilai, gambaran diri, komunikasi non verbal, penggunaan bahasa, orientasi ruang dan waktu yang kita kaji dan amati dari perbedaan kebudayaan yang berbeda dan memilih suatu kebudayaan yang pasti benar atau salah.
Interaksi dalam hidup bermasyarakat dalam budaya tertentu didasarkan pada perangkat nilai tertentu yang berkembang sejak kecil. Nilai-nilai tersebut kemudian dikumpulkan, diberi ganjaran dan ditekankan keluarga, komunitas, organisasi dan bangsa kita. Perbedaan nilai tersebut menjadikan akan memberi tahu siapa kita ini yang hidup dalam budaya bagaimana (menjadi orang Indonesia, orang Arab, orang Amerika) dan lain-lain yang mencerminkan cirri-ciri kebudayaan tertentu sebuah bangsa.
Membangun kepekaan budaya seseorang perlu adanya sensor yaitu mendengarkan, Mengamati, merasakan (fase I). Dalam Fase II yaitu menanggapi, ambil bagian, Tumbuh, selama interaksi dalam menyaring pesan yang datang. Fase III dengan menyesuaikan, berbagi, mengalami dan kemudian dapat dinikmati sebagai sebuah budaya tertentu.
Dalam ketiga fase tersebut orang harus mampu menyesuaikan diri, mampu mengambil bagian (ikut serta) dalam pengalaman/informasi dari pihak/orang lain. Tentu dengan cara yang menyenangkan yang ditampakkan oleh lintas budaya yang dinamis.